#Randomnotes: Balada Corat Coret di Toilet

Sebagaimana ikrar saya tanggal 22 April kemarin, setelah selesai membaca sebuah buku, saya berjanji untuk menulis catatan random tentang buku tersebut. Kali ini saya menulis catatan kecil tentang Corat Coret di Toilet karya Eka Kurniawan. Jujur saja sebagai pembaca pemula (mengingat baru-baru ini saya memulai hobi membaca kembali) belum pernah mendengar dan membaca karya mas Eka yang dipuja-puja sebagai sastrawan modern terpopuler yang juga dijuluki Pramoedya Ananta Toer masa kini. Sepertinya jaman-jaman saya SMP hingga kuliah saat ini terbilang useless karena minimnya pengetahuan dan perilaku konsumtif nan hedonis yang saya perbuat hingga tak pernah sekalipun membaca karya beliau. Malahan saya tahu mengenai mas Eka dari mas Aan Mansyur yang menulis tentang anggota dewan dan menghubungkannya dengan buku Corat Coret di Toilet yang baru dibacanya. Entah saya yang begitu bodoh atau karena ngefans sama beliau, saya langsung menelan mentah-mentah reviewnya dan mulai membelinya di toko buku. Setelah saya baca 2 bab awal yang sarat komedi satire, saya langsung memutuskan untuk membeli kumpulan cerpen tersebut. Berikut ulasannya, saya benar-benar mencoba meminimalisir spoiler dalam buku ini.

Membaca buku ini seakan membawa saya menolak lupa tentang gejolak reformasi, hancurnya kediktatoran dan besarnya peranan demonstrasi mahasiswa di akhir orde baru. Kebanyakan cerpen ditulis di tahun 2000an, masa-masa yang sudah dibilang aman untuk berani lantang menyuarakan kritikan yang sudah usai atau sekedar mengenang keberhasilan menggulingkan pemerintahan. Apapun itu, pembawaan penulis tentang kehidupan mahasiswa dan tetek bengek di dalamnya digambarkan secara gamblang dan menggelitik pembaca. Tema-tema kehidupan mahasiswa mulai dari cinta, kos di gudang kampus, hingga demonstrasi yang hingga merambah ranah toilet kampus. Mau tak mau saya diajak tenggelam dan menyelami lautan gejolak reformasi saat membaca buku ini. Meskipun saya berpengetahuan nol besar masa-masa itu mengingat saya kurang mengikuti (waktu itu saya masih SD) dan membaca sejarah jaman-jaman ketiga belas mahasiswa beserta demostran bersuara lantang menghilang begitu saja. Namun mas Eka, cerpen-cerpen Anda masih begitu layak untuk dibaca hingga hari ini, terlepas dari antrian untuk memakai telepon umum ataupun wartel dan tak adanya percakapan via wassap serta BBM, chatting  Facebook, update Path yang nyiyir ke ibu-ibu hamil ataupun bermensyen ria di twitter yang berharap twitnya dibalas para selebtwit yang sekarang digandrungi mahasiswa masa kini zombie media social addict (iya, termasuk saya) yang kemana-mana membawa powerbank itu.

Entah kenapa saya begitu ingin sekali menjadi mahasiswa jaman reformasi tanpa dikelilingi remaja yang menatap layar smartphonennya tiap menit dan sengaja ditendang dari zona aman nan nyaman seperti saya saat ini.

Setelah selesai membaca, saya begitu yakin jika buku atau setidaknya kumpulan cerpen ini pernah diedarkan di saat runtuhnya rezim presiden yang akhir-akhir ini booming dengan slogan "penak jamanku toh" itu. Dugaan saya ternyata benar, mas Eka selanjutnya memasang Corat-coret di toilet versi awal cetak di blognya.

Mengenai penerbitan buku ini kembali, tebakan saya yang pertama karena mungkin mas Eka ingin mengenang dan merindukan kehidupannya sebagai mahasiswa sekaligus membagi pengalamannya masa OrBa agar orang-orang tidak lupa tentang kelamnya kediktatoran masa itu. Yang kedua dan yang menurut saya lebih tepat yaitu terkait dengan pemilu 2014 saat ini.Penerbitan buku lama yang isinya sama namun tetap fresh hingga kini dengan menyindir anggota dewan dan kalutnya pemerintahan yang tak jauh beda dengan OrBa.

Saya juga masih belum paham mengapa 16 tahun yang lalu termasuk antek-antek pemerintahan yang tak manusiawi saat ini dengan senyum lebar mencalonkan diri sebagai pejabat. Mereka itu memang sudah lupa atau memang jadi Mr. Krab yang kerjaannya menimbun materi? Semoga saja hal tersebut hanyalah masa lalu kelam seseorang yang sudah ditaubatkan. Tetapi, Hey! bukankah preventasi untuk tidak berjudi terhadap pemilihan wakil rakyat negara ini dengan mengaca track record yang bersangkutan jauh lebih baik?
Previous
Next Post »